JAKARTA | (06/02) Untuk identifikasi suatu putusan pidana menggunakan pendekatan keadilan restoratif, Pasal 21 Perma 1/2024 mewajibkan Hakim untuk mencantumkan ketentuan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2024 dalam putusannya. Namun, berdasarkan penelusuran Direktori Putusan, sedikit sekali hakim yang melaksanakan “perintah” Perma tersebut dibandingkan dengan data ril perkara yang dilakukan pendekatan keadilan restoratif. Selain kepatuhannya rendah, hakim pun belum seragam dalam mengutip Perma Nomor 1 Tahun 2024. Diantara pengadilan yang mengadili perkara pidana dengan pendekatan keadilan restoratif, PN Langsa merupakan pengadilan yang paling patuh mencantumkan Perma1/2024 dalam putusannya, dengan jumlah 78 putusan.
Pendekatan keadilan restoratif menyelaraskan kepentingan pemulihan korban dan pertanggungjawaban terdakwa. Pendekatan ini telah menjadi paradigma baru dalam sistem pemidanaan. Pendekatan keadilan restoratif, kini semakin memiliki pijakan yang kuat dengan hadirnya KUHP dan KUHAP baru. Sebelum berlaku kedua aturan tersebut, Mahkamah Agung telah merespons dinamika hukum tersebut dengan menerbitkan Perma Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pedoman Mengadili Perkara Pidana Berdasarkan Keadilan Restoratif.
Kepatuhan Pencantuman Perma 1/2024 Hanya 2,80%
Berdasarkan penelusuran sistem Direktori Putusan, jumlah putusan perkara pidana yang menggunakan pendekatan keadilan restoratif dan dalam pertimbangan hukumnya mencantumkan Perma 1/2024 sebanyak 93 (sembilan puluh tiga) perkara. Sementara itu, berdasarkan data yang dirilis Badilum untuk laporan tahunan MA Tahun 2025, perkara pidana yang menggunakan pendekatan keadilan restoratif sepanjang tahun 2025 sebanyak 3.353 perkara. Jika dipersentasekan, kepatuhan implementasi Pasal 21 Perma 1 Tahun 2024, hanya 2,80%.
Redaksi Pencantuman Perma 1/2024 Sangat Variatif
Bersumber dari data yang sama, terdapat empat model bagaimana hakim mencantumkan referensi Perma Nomor 1 Tahun 2024 dalam pertimbangan putusan ketika mereka mengadili perkara pidana menggunakan pendekatan keadilan restoratif. Pertama, hakim mencantumkan rujukan dengan redaksi lengkap “Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014”. Kedua, menulis dengan redaksi singkat “Perma No. 1 Tahun 2024”. Ketiga, menulis dengan redaksi singkat “Perma Nomor 1 Tahun 2024”, dan Keempat tidak menyebutkan identitas Perma, namun menulis “keadilan restoratif”.
Pencantuman rujukan Perma Nomor 1 Tahun 2014 dengan model pertama ditemukan pada 45 (empat puluh lima) putusan yaitu PN Langsa sebanyak 42 (empat puluh dua) putusan, PN Sumenep sebanyak 2 putusan dan PN Paringin sebanyak 1 putusan. (https://putusan3.mahkamahagung.go.id/search.html?q=%22Peraturan+Mahkamah+Agung+Republik+Indonesia+Nomor+1+Tahun+2024%22)
Pencantuman rujukan model kedua sebanyak 2 (dua) putusan yaitu putusan pidana PN Bau Bau. (https://putusan3.mahkamahagung.go.id/search.html?q=%22Perma++No+1+Tahun+2024%22)
Pencantuman rujukan model ketiga sebanyak 2 putusan yang terdiri atas PN Sigli sebanyak 1 (satu) putusan dan PN Mungkid sebanyak 1 (satu) putusan. (https://putusan3.mahkamahagung.go.id/search.html?q=%22Perma+Nomor+1+Tahun+2024%22)
Pencantuman rujukan model keempat sebanyak 45 putusan, yang terdiri atas PN Langsa sebanyak 36 (tiga puluh enam) putusan, PN Indramayu sebanyak 2 (dua) putusan, PN Sumenep sebanyak 2 (dua) putusan, PN Jakarta Barat sebanyak 1 (satu) putusan, PN Cilacap 1 (satu) putusan, PN Lahat 1 (satu) putusan, PN Kisaran 1 (satu) Putusan, dan PN Mungkid 1 (satu) Putusan. (https://putusan3.mahkamahagung.go.id/search.html?q=%22keadilan%20restoratif%22&t_put=2025)
PN Langsa: Paling Patuh
Dari 94 (sembilan puluh empat) putusan restorative justice yang dalam putusannya mencantumkan Perma Nomor 1 Tahun 2024, sebanyak 78 putusan (82,98%) adalah putusan dari PN Langsa. Di bawahnya ada putusan PN Sumenep sebanyak 4 putusan (4,26%). Berikut tabel lengkap putusan pengadilan negeri yang mencantumkan Perma 1 Tahun 2024.
|
No |
Nama Pengadilan |
Model 1 |
Model 2 |
Model 3 |
Model 4 |
Jumlah |
% |
|
1 |
PN Langsa |
42 |
0 |
0 |
36 |
78 |
82,98% |
|
2 |
PN Sumenep |
2 |
0 |
0 |
2 |
4 |
4,26% |
|
3 |
PN Indramayu |
0 |
0 |
0 |
2 |
2 |
2,13% |
|
4 |
PN Mungkid |
0 |
0 |
1 |
1 |
2 |
2,13% |
|
5 |
PN Bau Bau |
0 |
2 |
0 |
0 |
2 |
2,13% |
|
6 |
PN Jakarta Barat |
0 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1,06% |
|
7 |
PN Cilacap |
0 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1,06% |
|
8 |
PN Lahat |
0 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1,06% |
|
9 |
PN Kisaran |
0 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1,06% |
|
10 |
PN Sigli |
0 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1,06% |
|
11 |
PN Paringin |
1 |
0 |
0 |
0 |
1 |
1,06% |
|
|
Jumlah |
45 |
2 |
1 |
46 |
94 |
|
Perlunya Standarisasi
Menanggapi adanya empat variasi redaksi pencantuman Perma Nomor 1 Tahun 2024 dalam pertimbangan hukum putusan restorative justice, Heru Pramono, menegaskan perlu adanya standardisasi dan konsistensi. Kedua hal ini merupakan hal penting dalam pengelolaan data base.
“Standardisasi dan konsistensi redaksional sangat penting untuk pengelolaan data dan informasi sehingga memudahkan proses cari-temu”, ujar Panitera MA.
Sementara itu, berkaitan dengan rendahnya kepatuhan pencantuman Perma 1/2024 sebagai pedoman mengadili perkara pidana berdasarkan keadilan restoratif, Heru Pramono mengingatkan agar para hakim memperhatikan perintah Pasal 21 Perma Nomor 1 Tahun 2024.
“Agar diperhatikan, Pasal 21 Perma mengatur dalam hal mekanisme keadilan restoratif yang terdapat dalam Perma 1 Tahun 2024 diterapkan, Hakim mencantumkan ketentuan Perma tersebut’, pungkas Heru Pramono. [an]
S